Posts filed under 'Berita Fotografi'

Kedai Kamera di Bangkok

Ini catatan menarik nie lengkap dengan foto, dari Mas Hasanuddin yang beberapa waktu mengunjungi salah satu Kedai Kamera di Bangkot Semoga informasinya bermanfaat.(wanphoto). 

Baru baru ini saya sempat berjalan-jalan di kota Bangkok. Bangkok adalah sebuah bandaraya yang besar dan moden. Tapi, saya rasa, Kuala Lumpur lagi cantik dari segi landscape dan kebersihan. Saya sempat melawat beberapa kedai kamera di Bangkok. Ternyata, kedai kamera di sana lebih canggih dari di Malaysia. img_6332.JPG

Kamera terbaru Nikon D3 dan D300 ada banyak ‘on display’ dan ‘ready stock’. Lensa dan aksesori yang jarang ada kat Malaysia pun mudah didapati di sana. Dari segi harga, lebih kurang macam harga di Malaysia. Pendek kata, saya simpulkan, Bangkok mempunyai pasaran barangan kamera yang lebih baik dari di Malaysia. Ini mungkin disebabkan jumlah pelancong asing dan peminat fotografi tempatan yang ramai terdapat di sana.

Nak lens apa? Pilih aje. Jangan bayar pakai RM, pakai Baht.

img_6391.JPG
Kamera besar tu ialah kamera Canon F-1 dengan bulk film magazine. Ada banyak lagi kamera ‘lama’ yang dipamerkan di kedai Canon ni. Kedai kamera Canon ni, disamping menjual kamera baru, ia juga ada satu bahagian galeri yang mempamerkan kamera-kamera Canon yang terdahulu. Kedai ni terletak di MBK Shopping Complex, Bangkok.

img_6393.JPG
Kat kedai ni, hampir semua lensa Canon yang ada dalam brochure, dipamerkan dan dijual, tak payah nak order. Kedai ni terletak di MBK Shopping Complex, Bangkok.(Sumber hasnuddin/fototeacher.com)

Add comment Maret 26, 2008

Berlatih Fotografi di Gunung Salak-Halimun

Berikut pengalaman pelatihan fotografi di Gunung Salak Halimun yang ditulis  Stringeresha di situs habibat.net, sungguh pengalaman yang cukup menarik (Red)

Ursula Murti sengaja bangun lebih awal pada jumat pagi itu, akhir November lalu. Datang dari Jakarta, ia tak ingin melewatkan acara yang akan digelar di wilayah eksplorasi panas bumi Chevron Geothermal Salak Ltd., (CGS), Gunung Salak-Halimun, yang termasuk dalam kawasan Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ursula telah membawa satu set perlengkapan fotografi: Nikon D80 dengan lensa 18 – 135mm f3.5 – 5.6. “Baru satu bulan saya pake kamera ini,” ujar perempuan berkacamata minus itu seraya tersenyum.

Berkumpul di ruang rapat di kantor utama, Ursula tak sendirian. Di situ rekan-rekan kerjanya telah juga hadir untuk menyerap ilmu fotografi dari Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia yang juga praktisi fotografi handal. Menjelang akhir pekan, sebagian besar karyawan CGS bersiap-siap kembali ke rumah, usai bekerja sepanjang minggu. Namun, karena gelaran pelatihan fotografi satu hari, mereka rela menunda kepulangan ke rumah.

Fotografi merupakan hobi universal, tak berbatas sekat dan ruang. Rex Soeparjadi, yang menjadi orang nomor satu di wilayah eksplorasi CGS tergelitik menyimak pemaparan Tantyo. Sesekali ia pergi dari kursi lantaran harus menerima panggilan pada telepon selulernya. Tak jarang pula, ia melontarkan kasus yang pernah ditemui di kala berburu foto.

“Untuk membuat rangkaian esai foto yang baik, jangan pernah segan untuk melakukan riset terlebih dahulu,” ujar Tantyo. Penulusuran pustaka sangat membantu kita untuk memahami subyek yang akan difoto. Misalnya saja, pengambilan gambar di kawasan rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Karena sebagian besar orangutan yang direhabilitasi ini pernah dipelihara manusia, maka mereka tak terlampau takut dengan kehadiran fotografer. Untuk kasus ini, “kita dapat memakai lensa lebar dengan jarak pengambilan sekitar satu sampai satu setengah meter,” sebut Tantyo seraya menyajikan hasil-hasil fotonya di kawasan itu.

Penggunaan lensa panjang (tele-lens) di dalam hutan – yang miskin pencahayaan – masih dimungkinkan berkat adanya fasilitas image stabilizer. Dengan demikian, gambar yang dihasilkan masih tetap tajam. “Jangan lupa untuk memadatkan subyek dalam bidang gambar kita,” pesan Tantyo menunjukkan contoh yang telah ia buat sebelumnya.

Konvergensi Teknologi

Kecanggihan teknologi multimedia juga merambah dunia fotografi masa kini. Dengan pesatnya kemajuan dalam peranti keras dan lunak, proses konvergensi (keadaan menuju satu titik pertemuan) terjadi pula. Besaran, fungsi, dan kemampuan sebuah perangkat dimampatkan dalam sebuah desain yang bisa meluncurkan beragam guna. Kini konvergensi yang tengah marak adalah telepon genggam yang digabungkan dengan perangkat fotografi. Bila sebelumnya fitur ini hanya menjadi pelengkap, saat ini secara perlahan mulai seimbang, jika tak boleh disebut dominan, entah itu dalam kemampuan maupun kualitas. Alat yang telah berkembang begitu pesat tentu kembali kepada kemampuan dasar seorang fotografer.

“Nah, sekarang saya minta bapak dan ibu semuanya untuk mencoba menebak, mana foto yang diambil dengan kamera digital SLR (single-lens reflex) dengan foto hasil kamera handphone,” ujar Tantyo menyajikan serangkaian foto yang menjadi kuis dadakan tersebut. Kontan, ruangan menjadi gaduh. Sementara Tantyo tersenyum simpul, beberapa peserta masih tak percaya bila ada foto yang dihasilkan dari kamera pada ponsel. “Ada dua foto yang diambil dengan handphone yang telah dilengkapi dengan kamera resolusi 3,2 megapiksel,” ujar fotografer yang karyanya pernah dimuat di National Geographic, Time, Newsweek, Asiaweek dan lainnya ini memberikan bocoran.

Usai jawaban dikumpulkan, Tantyo menyingkap rahasia. Seluruh peserta terperangah, tak menyangka bila foto yang dihasilkan kamera sebuah telepon selular mampu menyaingi kamera digital SLR. “Tapi, jika kita perhatikan secara seksama, perbedaannya pada saturasi warna. Foto dari handphone menghasilkan warna yang lebih biru dan kurang matang,” terang fotografer yang pernah menjejalahi Benua Antartika pada 1995 ini. Tak berhenti di situ, sebagian peserta terus menggali ilmu fotografi – entah itu dari pengalaman pribadi maupun teori yang ingin lebih dipahami.

Tanpa terasa acara pengantar fotografi yang diberikan Tantyo telah menghabiskan waktu dua jam. Namun, berbagai pertanyaan belum juga berhenti. Ada yang masih penasaran dengan konvergensi telepon genggam yang dapat menghasilkan gambar yang cukup baik. Ada pula yang ingin menggali lebih dalam teknik fotografi di lapangan. Itu sebabnya, panitia telah menyiapkan acara berburu foto di beberapa titik di wilayah eksplorasi panas bumi (geothermal) milik CGS bersama Tantyo.

Bersama puluhan rekan yang telah membawa berbagai perlengkapan fotografi, Rex dan Ursula pun tak mau tertinggal. Terlebih lagi, hasil-hasil foto yang dihasilkan pada acara itu akan dibahas bersama-sama. Hamparan karpet hijau perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII, sumur injeksi, dan bentangan pipa uap panas menjadi subyek yang menarik. Kadangkala ada rekan yang membidik tingkah rekan lainnya yang tengah membidik subyek. Kalaupun ada yang disayangkan, sepanjang hari sinar mentari terhalang oleh tebalnya halimun pegunungan.

Dalam pembahasan hasil foto, karya tiap peserta dipresentasikan. Beberapa pehobi fotografi itu menjelaskan obyek yang menjadi bidikannya. Dr. Suharwanto yang memiliki latar belakang teknik sipil memperlihatkan hasil bidikannya yang diambil dari sudut pandang seorang ahli teknik. Ia kadangkala terlihat lupa menempatkan skala dan kedalaman dari sebuah bidang atau struktur bangunan yang difoto. Dalam kesempatan tersebut, Tantyo juga mengingatkan masalah pembagian ruang dan penempatan subyek foto dalam bidang gambar. Semoga saja kegiatan berlatih bersama di wilayah lingkungan kerja ini menjadi pemicu semangat pehobi fotografi yang tergabung dalam Salak Photography Club ini. (Stringeresha)

Add comment Maret 18, 2008

Meliput Adam Air, Fotografer Ditangkap

DENPASAR – Pemberitaan tentang gonjang-ganjingnya maskapai Adam Air menorehkan getah pahit bagi jurnalis di Bali. Ini setelah seorang fotografer ditangkap saat melaksanakan tugas jurnalistik di Bandara Ngurah Rai, Badung, kemarin.

Peristiwa yang menimpa fotografer Koran Seputar Indonesia Zul T Edoardo ini berawal saat dia berusaha mengambil foto pesawat Adam Air dari luar pagar pembatas bandara, sekitar pukul 17.00 wita kemarin. Setelah sekitar setengah jam, Zul akhirnya berhasil mengambil gambar pesawat Adam Air, meskipun dalam jarak yang cukup jauh karena peswat masih terparkir di landasan.

Namun karena naluri jurnalistiknya merasa merasa belum mememperoleh gambar yang maksimal, fotografer berkacamata ini bersikukuh menunggu pesawat Adam Air take off.
Namun belum sempat niat itu kesampaian, tiga orang security PT Angkasa Pura tiba-tiba mendekat. Meski awalnya sempat merahasiakan identitasnya, Zul lalu mengatakan dirinya jurnalis. Dua petugas secutity bernama I Wayan Guntur dan I Made Sukerdana lantas meminta ID. “Saya kemudian memberikan ID Press,” ujar Zul.

Namun petugas tetap tidak percaya dan malah menanyakan identitas lainnya. Zul lantas memberikan SIM A dari dalam dompetnya. Persitiwa tidak berhenti di situ. Tiga petugas lantas membawa Zul ke pos security. Di tempat ini, tas yang berisi perlengkapan kamera milik zul hendak diperiksa. Namun Zul menolaknya karena khawatir kameranya disita ataupun terjadi kerusakan. “Kamu tidak boleh mengambil gambar di sini,” bentak Guntur dengan nada keras.

Merasa tidak melakukan kesalahan, Zul kemudian mengatakan dia luar mengambil foto dari pagar pembatas. Tak terima dengan jawaban itu, petugas lalu memasukkan Zul ke dalam mobil dan dibawa menuju kantor ADM (airport duty manager).

Oleh petugas ADM bernama Mandia, Zul lantas diinterogasi dengan nada keras. Bukan cuma itu, tas berisi kamera akhirnya digeledah dan dikeluarkan. Bahkan, setelah itu petugas juga memeriksa seluruh badan fotografer ini. Setelah dipastikan aman, dengan enteng petugas ADM mengatakan kejadian ini hanya salah paham. “Namun Anda tetap bersalah karena telah memasuki rumah kami tanpa ijin,” kata Mandia.

Peristiwa itu pun membuat kalangan jurnalis dan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) malam itu juga mendatangi Bandara Ngurah Rai. Petugas akhirnya melepas Zul sekitar pukul 20.00 wita. “Penyelesaiannya tidak sekadar melepas yang bersangkutan, karena ini telah melecehkan profesi jurnalistik. Apalagi fotografer yang bersangkutan mengambil gambar dari luar pagar pembatas bandara,” kata Syafrudin Siregar, pengurus AJI Denpasar.

Hal senada disampaikan Ketua AJI Denpasar Bambang Wiyono. Menurut dia, tidak selayaknya pihak PT Persero Angkasa Pura I Ngurah Rai sampai melakukan penahanan terhadap seorang wartawan. “Itu perlakuan yang berlebihan dan tidak bisa dibenarkan oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” kata Bambang.

Sementara itu, Kepala PAP I Nyoman Suwetja Putra saat dikonfirmasi mengakui sudah mendengar peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian itu hanya berawal dari salah paham. Seharusnya, kata Suwetja, seorang jurnalis harus minta ijin saat hendak meliput di lingkungan bandara. Namun, dia juga mengakui tentang tindakan anak buahnya yang berlebihan. “Karena itu saya juga minta maaf,” ujarnya. (miftachul chusna/ ni komang erviani)

Add comment Maret 17, 2008


Selamat Datang

Artikel Fotografi Berita Fotografi Galeri Jepretan

Tulisan Terakhir

Blog Stats

 

November 2009
S S R K J S M
« Mei    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Meta

Tag

Komentar Terakhir

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.